Penelitian Kolaboratif Ungkap Determinan Stunting di Kolaka Utara

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Penelitian Kolaboratif Ungkap Determinan Stunting di Kolaka Utara

Rabu, 10 Juli 2024

 


Penelitian Kolaboratif Ungkap Determinan Stunting di Kolaka Utara



Kolaka Utara – Sebuah penelitian kolaboratif yang melibatkan Balitbang Kolaka Utara dan sembilan peneliti dari berbagai universitas telah berhasil dilaksanakan di Kabupaten Kolaka Utara. Penelitian ini melibatkan berbagai institusi pendidikan ternama seperti Institut Teknologi dan Sains Kolaka Utara, Universitas Tadulako, USN Kolaka, STIKES Karya Kesehatan Kendari, ISTEK Aisyiyah Kendari, dan Universitas Sulawesi Barat.


Dosen ISTEK Aisyiyah Kendari, Venia Oktafiani menyampaikan, 

tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang menjadi determinan stunting di Kabupaten Kolaka Utara.


"Hasil penelitian ini telah disampaikan kepada pemerintah daerah yang melibatkan  Pj Bupati Kolaka Utara, Balitbang Kolaka Utara, Dinas Kesehatan, BKKBN, Bappeda, instansi kesehatan, dan OPD. Langkah ini sebagai upaya agar para pemangku kepentingan untuk memahami temuan penelitian dan merumuskan langkah-langkah konkrit yang akan diambil untuk mengimplementasikan rekomendasi kebijakan yang diajukan oleh para peneliti," bebernya, Kamis, (11/7).


Sementara itu,  Pj Bupati Kolaka Utara, Dr. Ir. Sukanto Toding menyatakan apresiasinya terhadap penelitian ini dan menekankan pentingnya kolaborasi antar berbagai pihak untuk mengatasi masalah stunting yang telah menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Ia juga berkomitmen untuk mendukung implementasi rekomendasi kebijakan yang telah dihasilkan dari penelitian ini demi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Kolaka Utara.


Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka stunting di daerah tersebut, yaitu Kekurangan Energi Kronis (KEK) selama kehamilan, ketersediaan sanitasi yang buruk, dan tingkat pendidikan ibu yang rendah. Berdasarkan temuan ini, para peneliti mengajukan sejumlah rekomendasi kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut.


Pertama, peningkatan kapasitas posyandu sebagai pusat layanan kesehatan dan gizi bagi ibu hamil diusulkan sebagai langkah awal. Posyandu dapat memainkan peran penting dalam memberikan edukasi dan layanan kesehatan yang diperlukan bagi ibu hamil, terutama yang berisiko mengalami KEK. 


Selain itu, pengembangan Program Kesehatan Mobile yang melibatkan kunjungan rumah bagi ibu hamil dengan KEK atau berisiko KEK juga direkomendasikan. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa ibu hamil mendapatkan perawatan dan nutrisi yang mereka butuhkan meskipun berada di daerah terpencil.


Rekomendasi berikutnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi rutin terhadap distribusi suplemen dan makanan tambahan bagi ibu hamil serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Hal ini penting untuk memastikan bahwa ibu hamil mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan terjaga kesehatannya selama masa kehamilan.


Selain itu, program bantuan sosial bagi keluarga kurang mampu juga disarankan untuk memastikan bahwa ibu hamil memiliki akses terhadap makanan bergizi.

Terkait dengan sanitasi, peneliti mengusulkan adanya program subsidi atau bantuan untuk pembangunan SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah) bagi masyarakat kurang mampu. Kampanye mengenai pentingnya sanitasi lingkungan juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah stunting.


Dalam hal pendidikan, pengembangan kebijakan wajib belajar minimal 12 tahun melalui peningkatan akses pendidikan terutama di daerah dengan tingkat pendidikan rendah menjadi salah satu rekomendasi utama. Selain itu, program pemberian bantuan pendidikan khususnya untuk perempuan juga diusulkan untuk meningkatkan tingkat pendidikan ibu yang pada gilirannya dapat berdampak positif pada kesehatan dan gizi anak-anak mereka.


"Penilitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pemerintah daerah dan pihak terkait untuk merumuskan kebijakan yang efektif dalam upaya mengatasi masalah stunting di Kabupaten Kolaka Utara. Kolaborasi antara Balitbang Kolaka Utara dan berbagai institusi pendidikan ini menunjukkan pentingnya kerjasama lintas sektor dalam mencari solusi terhadap permasalahan kesehatan masyarakat," imbuhnya. (dipta)